7 ALASAN SEBAGIAN GERAI WARUNK UPNORMAL TUTUP

  • Respati hanantyo
  • Selasa, 07/02/2023
  • Pendidikan
  • 22561 hits

INSIDEN24.COM – Warunk Upnormal, warung yang dulu terkenal sebagai tempat nongkrong khususnya di kota-kota besar bagi kalangan anak muda. Warunk Upnormal ini sejarahnya lahir di Kota Bandung, yang menjadi ngetren dengan bisnis kulinernya.

Namun, dari perkembangannya semakin hari semakin banyak gerai Warunk Upnormal perlahan tutup.

Lantas, dari banyaknya gerai Warunk Upnormal kenapa banyak yang tutup? Apa sepi pengunjung?

Berikut 7 alasan kenapa sebagian gerai-gerai Warunk Upnormal tutup atau collapse. Dikutip insiden24.com dari laman YouTube Bennix, pada Selasa, 31 Januari 2023.

1. Faktor Harga

Saat mengunjungi Warunk Upnormal dulu memiliki harga yang cukup terjangkau ringan di kantong. Bermodal 50 ribu bisa makan mie rebus atau mie goreng untuk dua hingga tiga orang pada saat itu.

Namun, sekarang gerai ini memiliki harga yang jauh berbeda dengan bermodal 50 ribu berasa tidak akan cukup untuk satu orang. Dan yang semakin memperparah soal mempertahankan produk rasa pada makanan itu sendiri.

2. Ekspansi Terlalu Cepat

Pada tahun 2019 mereka mengoperasikan sebanyak 85 gerai yang tersebar di 20 kota yang ada di Indonesia.

Melakukan ekspansi terlalu cepat akan dapat merugikan perusahaan itu sendiri. Alasannya, karena untuk modal biaya tempat juga renovasi gerai ini tidak murah, terutama mengenai lokasi yang dimiliki Warunk Upnormal selalu di tempat lokasi yang cukup strategis.

Sudah barang tentu harga sewa pun cukup tinggi dan beberapa hambatan mengenai bahan baku, logistik, harga pengiriman yang belum tentu sama, sehingga kualitas produknya menjadi bisa tidak seragam.

3. Segmentasi Pasar

Warunk Upnormal memiliki market price yang sedemikian rendah, generasi awal segmen Warunk Upnormal ini adalah kalangan anak-anak muda sekolahan yang masih belum bekerja dengan range usia 15 – 25 tahun.

Dan ketika Warung Upnormal menaikan harganya, orang-orang ini kemudian mulai berpikir untuk mencoba di tempat lain dan harganya juga sudah worth it.

4. PSBB (Pandemi)

Saat masa pandemi melanda Indonesia, sangat berdampak terutama pada bisnis kuliner di Indonesia, salah satunya terjadi pada Warunk Upnormal.

Pada masa psbb tahun 2019-2020 lalu, banyak restoran yang bangkrut juga collapse, karena orang sudah tidak bisa lagi menikmati makan di tempat.

Ketika berbisnis yang berhubungan dengan experience di bidang makanan dan mendapat aturan psbb pada saat pandemi, gerai ini cukup berdampak dan menjadi bencana besar. Oleh karena itu kenapa gerai Warunk Upnormal banyak yang tutup.

5. Kemewahan

Warunk Upnormal memiliki tempat yang selalu strategis, desain arsitektur bangunan mewah serta didukung dengan fasilitas didalamnya yang membuat betah para pengunjungnya. Namun, semuanya itu untuk mengeluarkan biaya modal tidak sedikit, sementara makanan yang dijual adalah indomie telur.

Tak heran kalau banyak mitra dari Upnormal merasa kecewa dengan investasi di awal yang terlalu tinggi dan ini berakibat ke kualitas dari service-nya.

6. Service

Service Upnormal ini terlalu cepat dengan memiliki langsung 20 gerainya yang tersebar di beberapa kota. Sementara logistik, supply change, dan employment trainingnya belum tentu siap.

Dan yang terjadi service dan layanan yang ada di gerai-gerai Warunk Upnormal menjadi tidak seragam.

Alasan inilah kemudian orang berpikir kalau service-nya tidak bagus mungkin sebuah pertanda bahwa manajemen-nya memiliki pengelolaan yang kurang bagus.

7. Manajemen Internal

Manajemen yang ada di internal Upnormal itu pendekatannya terlalu Top Down, yang tidak mau mendengarkan masalah yang terjadi di lapangan dan masalah-masalah yang terjadi di franchise-nya. Upnormal sendiri gagal mendengarkan informasi-informasi dari bawah, seperti halnya penerapan dari segi menu, salah satunya banyak menu-menu yang sebetulnya laku dijual di kota-kota tertentu, ketika disuruh take out mereka secara nasional hilang dan ini sangat disayangkan.

Market Indonesia ini sangat unik salah satu contoh terdapat di gerai KFC atau McD bisa menemukan ayam goreng gule dan sebagainya, mereka bergerak berinovasi sesuai dengan perkembangan tren yang ada di Indonesia dan mereka mendengarkan market itu dari bawah.


: tanpa label

Apabila ada yang ingin dikonsultasikan, silakan untuk menghubungi kami.